Liburan aku di Penang kali ini mencakup tiga dalam satu. Samalah macam minuman instan yang banyak terdapat di pasaran sekarang. Sedangkan pepatah lama kita hanya mencakup dua saja, yaitu sambil menyelam sambil minum air.
Tapi apapun sambungan entri Cuti-Cuti Jakarta ini tetap sama seperti pepatah lama kita. Sambil liburan memang kita butuhkan makan. Cuma peluang menambah ilmu sambil liburan ini hanya datang secara tidak langsung. Pada itu aku berterima kasih kepada saudara JimieRay yang bersusah payah datang menjemput aku di Lineclear.
Malam itu kami belasah nasi kandar cukup-cukup. Macam orang tak bertemu nasi sebulan. Segala lauk pauk terhidang di meja. Paling mengintimidasi kepala ikan yang begitu besar dihidangkan. Dalam korek-korek kepala ikan, rupanya isi dalam tak masak. Berkeriauk mamak datang gantikan dengan yang lain.
Aku naik mobil saudara JimieRay ke Bukit Jambul. Tiba di restoran kat sana dua orang blogger dan internet marketer saudara Haslah Hashim dan Azizi Mohamad dari Jakarta sedang menunggu kami. Dalam asyik ngobrol, sebuah mobil Mercedes tiba. Rupa-rupanya saudara Zamri Nanyan yang datang.
Sebenarnya pada setiap hari Jumat malam Sabtu di situlah pertemuan blogger dan internet marketer dari Utara. Setiap minggu mereka akan bertemu dan berdiskusi hal-hal berbangkit.
Terasa juga serba salah. Aku ni dah jadi macam pengacau pula. Tapi syukur mereka dapat menerima kehadiran aku. Sehingga jam melewati satu pagi kami masih rancak ngobrol. Terima kasih banyak kepada saudara Zamri Nanyan yang banyak memberikan aku petunjuk dan nasihat gratis pada malam itu. Sehingga makan dan minum kami pun gratis juga. Semua dia yang bayar.
Esok pagi agenda kami mengunjungi Taman Rama-Rama di Teluk Bahang. Setelah merekam gambar famili, aku bergegas keluar meninjau kalau ada warung kat situ. Sebenarnya perut aku lapar karena pagi tadi terlepas sarapan kat hotel. Itulah akibatnya bangun tidur lambat. Arwah mak aku selalu berpesan, orang bangun tidur lambat akan terlepas rezeki. Tinjau punya tinjau yang ada kat situ hanya seorang nyonya jual buah potong.
Puteri aku sarankan kita makan nasi padang Minang lauk ikan Negro. Katanya ikan itu ditaruk sambal dan dimasak sampai hitam macam orang Negro. Apapun aku tak peduli. Janji dapat isi perut yang dah mulai berbunyi. Tapi tiba di sana kami terpaksa que untuk mendapatkan meja kosong. Punyalah banyak manusia makan kat restoran tu.
Balik ke hotel terbungkam tidur akibat kekenyangan. Bangun tidur serve internet lagi. Permaisuri jeling pun aku buat tak pandang. Email yang masuk ke inbox pula mengalahkan bullet train. Terpaksalah check satu satu. Mana tak penting delete aje!
Dinner malam ini sekali lagi puteri aku sarankan kita makan kepiting bakar di restoran tsunami. Punyalah banyak lauk pauk yang dia order, sampaikan mata dah terkebil-kebil melihat saldo udang galah dan sotong goreng. Tapi apapun harus habiskan juga. Kalau tidak membazir pula.
Agenda besok meninjau di pasar Chowrasta. Buah-buah jeruk menjadi pilihan puteri-puteri, sementara permaisuri pula pilih buah berangan. Aku? Sental apa yang ada. Makan tengah hari kami singgah di restoran Hameediyah. Kata orang Penang nasi kandar situ lebih baik dari Lineclear. Tapi pelanggan memang pack. Lagi sekali harus tunggu giliran untuk mendapatkan meja kosong.
Petang itu kami konvoi balik ke Jakarta. Memang pun benar-benar punya konvoi. Punyalah banyak mobil dari Utara menuju Jakarta, sehingga perjalanan kami mengjangkau 8 jam. Keluar dari mobil, kusyen mobil masih berasap .... panas!!
Share on Facebook











































































sekali-kali bisa tengok ke Bali ..
salam kenal ..
Terima kasih, tuan. Memang saya teringin juga mau ke Bali.
hmmm amazing .... esok nak gi penang ler ni. tak tau lah nak hilangkan stress ker atau nambahkab lagi stress almaklum first time nak drive nun jauh gitu.
Driving long distance harus relax .... baru kita enjoy dan tentu tak ada stress.