Jawabku, Jibam dah lebam! Kalau diikutkan hati, aku dah malas nak cerita pasal 'Jibam'. Banyak bertanya apa dah jadi pada Jibam? Jawabku, Jibam dah lebam!
Karena Jibam, banyak sangat pahit manis maung yang aku hadapi. Waktu terbuang, duit tak dapat, nama tercemar dan paling menyedihkan, bisa putus kawan.
Kalau kawan-kawan nak tahu lebih lanjut, nantilah aku masukkan ke posting lain. Tapi untuk sekarang ni, membuat aku tergerak tulis hal Jibam ini setelah mengunjungi satu blog yang mempertanyakan keputusan FINAS menyetujui pinjaman untuk film 'Jibam The Movie'.
Tuan ampunya blog itu bukan calang-calang orang. Meskipun aku tak pernah bersua dengan dia, kira aku respect karena pengalamannya dalam industri ini sebagai penulis, sutradara dan produser. Lebih-lebih lagi dia tu anak ke direktur veteran dan seniwati yang aku kagumi dek dalam usia mas masih hebat berkarya.
Buruk sangat ke cerita 'Jibam' ini sehingga dia pertikaikan persetujuan Finas itu? Maka di sini aku perturunkan kertas-kerja proyek film tersebut untuk sama-sama kita nilaikan.
TUJUAN:
Tujuan kertas kerja ini adalah untuk mengajukan satu saran menerbitkan sebuah film fiksi berjudul 'Jibam The Movie' adaptasi dari novel 'Jibam' terbitan CESB. Novel karya saudara Ujang ini sudah 9 kali dicetak ulang dengan jumlah distribusi lebih 200 ribu eksemplar sejak tahun 1992.
Film ini diharapkan bukan saja mampu mengisi kemarau film-film Melayu bahkan ia akan menaikkan martabat film Melayu dan mampu bersaing di festival film internasional.
2. KONSEP
Latar dan budaya cerita masyarakat Melayu.
Jiwa dan semangat Melayu dalam kontek sosial-budaya masyarakat desa sekitar awal tahun 70an.
Penekanan berfokus pada kehidupan seorang anak cacat (cacat akal) beserta dilema sistem kekeluargaan yang serba kekurangan.
Kezaliman dalam mengejar harta dunia.
3. Penonjolan ISU
Semangat mufakat dalam mengeksplorasi sebuah perkampungan baru di pinggir hutan sekitar awal tahun 70an.
Semangat setiakawan dan kerjasama masyarakat kampung Melayu.
Suka duka kehidupan anak yatim yang terencat akal.
Keistimewaan dan kemampuan luar biasa anak-anak tersebut.
Ketabahan seorang ibu tunggal dalam membesar seorang anak yang cacat akal beserta kerenah dua orang lagi anak remaja yang tidak sehaluan.
Penipuan dalam pengambilan dan penjualan tanah yang ditelusuri.
Sifat kaum Melayu yang mudah dibujuk.
Sifat hasad dengki dan tamak haloba yang akhirnya memakan diri sendiri.
Penonjolan budaya Melayu dari segi pakaian, kebiasaan, agama, permainan tradisional, pergaulan dan lain-lain.
4. OBJEKTIF
Mengisi kemarau film Melayu di mana kita sudah lama tidak disuguhi dengan cerita masyarakat kampung.
Memberi kesadaran kepada masyarakat agar tidak mezalimi orang-orang cacat.
Melahirkan sebuah film yang tidak berhubungan langsung dengan unsur-unsur glamour dan budaya barat.
mengetengahkan nilai-nilai budaya Melayu yang sebenarnya untuk tontonan semua lapisan masyarakat.
Turut bersaing dalam festival film internasional dalam mengangkat martabat film Melayu di mata dunia.
PENONTON kelompok sasaran
Anak-anak yatim dan golongan orang-orang cacat dalam tayangan amal dan tayangan perdana.
Anak-anak dan remaja dalam linkungan umur 7-18 tahun.
Pemuda-pemuda dalam linkungan umur 18-45 tahun di mana sebagian dari mereka yang pernah membaca novel ini 15 tahun lalu.
Ibu-bapak yang mengiringi anak-anak ke bioskop.
Peminat-peminat film Melayu yang rindu akan sebuah cerita bercorak tradisional (elemen seni budaya Melayu).
fans Ujang sendiri yang diperkirakan sebanyak 1 juta orang sejak dari mula ia berkarya.
RUMUSAN
Film ini bisa dijadikan landasan dalam menonjolkan satu bentuk sinergi antara pemerintah dengan masyarakat majemuk.
Menghasilkan skenario kehidupan yang aktif dan pro-aktif dalam konteks pengembangan kehidupan kekeluargaan.
Ketahanan lembaga keluarga dengan ikatan kekeluargaan yang memperkuat nilai budi, kasih sayang, hormat menghormati dan bertanggung jawab.
Pembentukan semangat kerjasama yang bisa menampilkan identitas bangsa Malaysia.
Melibatkan peran LSM di dalam membantu kalangan 'OKU'.
ketabahan hati seorang ibu tunggal yang bisa dicontoh oleh kaum wanita.
WAWASAN
Cetusan film ini adalah untuk digemari dan didukung oleh semua lapisan masyarakat agar bersama-sama di dalam arus menuju ke arah tujuan meningkatkan martabat film-film Melayu.
Share on Facebook
































































Heh ... cerita ni memang sedap .. byk unsur2 kemasyartakatan dan budaya rakyat Malaysia .. apa nak dipertikaikan lagi. Saya dah baca ceritan Jibam ni berulang-ulang kali, tak jemu pun ..
Kita dah lama kekurangan cerita serius yg memamerkan unsur2 kebudayaan Malaysia. Nah .. benda dah ada depan mata ... apa lagi ... keluarkanlah ..!! Ini tidak, cerita merempit ... cerita korang bermoral yang sering dilayarkan ... Konon untuk menyadarkan masyarakat bahayanya aktivitas itu .. tapi takkan la mereka tak sadar ... remaja dan masyarakat zaman sekarang ni, bukan nak ambil iktibar dari cerita tapi nak ambil aksi dari cerita untuk menjadi hero saat ...
Terima kasih Missa meluangkan waktu mengunjungi dan membaca di blog saya. Sebagai menjawab komentar Missa, saya adakan entri baru terkait Jibam The Movie. Mohon dapat luangkan waktu dan sama2 kita bincang karena saya akan adakan sambungan pada entri itu.