Aku telah ingatkan mereka dari awal lagi. Siapa saja yang terlibat dalam produksi film Jibam ini harus jujur dan ikhlas. Jangan dengki, iri hati dan tamak haloba. Senang kata jangan ada sekumit hitam di hati mereka. Baik produser, sutradara film, production team dan juga technical team. Ini karena kita akan garapkan sebuah cerita tentang seorang anak OKU yang jujur dan lurus bedul. Badi anak ini telah aku rasakan dari awal menulis skrip dan dalam usaha selama satu tahun mencoba mendapatkan produser mempublikasikan film itu. (Lihat pada entri 'Harry Porter Melayu').
Tugas aku selaku Executive Producer dalam menyeleraskan lokasi baru di Slim River semuanya beres. Segala peralatan termasuk kayu kayan, zinc lama, dinding bertam, atap bertam untuk membangun set rumah Jibam, rumah Tuk Ngah Sudin, rumah Usin Singai, rumah Usup Kidung dan sebuah warung Pak Itam semuanya sudah berada di situs lokasi, satu sen duit belum dikeluarkan lagi oleh produser. Semua itu di atas kepercayaan orang kampung di Slim River ke aku.
Selain itu props seperti sebuah van body kayu, 8 buah sepeda lama, dapur minyak tanah merek 'butterfly', tempayan-tempayan lama untuk diletakkan depan setiap rumah semuanya sudah diperoleh pada usaha Atan Slim. Setiap kali aku naik ke Slim River, dia orang datang jumpa aku menanyakan uang mereka. Tukang-tukang rumah pula tanya bila rumah-rumah itu akan didirikan karena dinding bertam dan atap bertam yang lama sangat tersandar di pohon kena hujan panas akan jadi rusak dan sulit dipasang nanti.
Orang kampung mulai excited karena pertama kali sebuah film akan dilakukan syuting di kampung mereka. Bahkan Kepala Kampung, Tuk Penghulu, DO dan OCPD, pantang jumpa aku harus tanya bila kami nak start shooting. Yalah, setelah peluncuran itu hari berita ini dah tersebar di dada koran. Dengar berita ini juga sudah sampai ke kantor Menteri Besar di Ipoh.
Aku tanya produser bila nak bayar duit dia orang tu dan bila kita nak mulai shooting. Rupanya produser tak ada duit. Dia mengharapkan dana FINAS sebagai modal untuk film ini. Sebaliknya dana itu melalui bank SME. Pihak bank SME pula hanya akan release payment yang pertama setelah 25% syuting dilakukan. Selain itu dengar kabar pihak bank SME tidak setuju dengan beberapa orang aktor baru yang dipilih oleh direktur. Mereka mau aktor-aktor yang ada commercial value.
Produser minta aku dapatkan setiap teman atau investor yang tertarik JV dan pump-in modal awal sebesar RM400 ribu untuk film ini. Kalau aku ada teman atau investor, lebi baik dari awal dulu aku terbitkan sendiri film ini. Tak adalah nak susah payah macam ni.
Apapun aku kena jalankan tugas aku selaku Executive Producer. Aku berkonsultasi dengan bos perusahaan penyedia equipment film ini. Karena kesiankan kami, dia sanggup release dulu equipment tanpa biaya sehingga kami dapat first payment dari bank SME. Tapi itupun kami nak kena bayar technical crew, production crew dan aktor. Mana kami nak cekau duit? Di atas dasar simpati dan beliau yakin kami akan bayar, dia setuju untuk release equipments dan technical crew.
Aku sampaikan berita baik ini ke produser. Aku pujuk produser prabayar 10% ke production team dan aktor, kita dah bisa mulai shooting. Tapi aku tengok muka produser ketat aje ...! Sepuluh persen pun dia tak daya nak usahakan. Aku sendiripun dah tak tahu nak cakap lagi. Muka aku dah tebal giler. Orang kampung asyik tanya duit mereka.
Jalan terakhir, aku lakukan sesuatu yang di luar batasan. Cerita ini memang tak pernah tersebar di mana-mana. Selama ini memang tak ada siapa pun yang tahu, kecuali kami lima orang saja. Dan .... buat pertama kali, aku bongkarkan usaha terakhir aku itu di dalam blog ini.
Pada bantuan seorang teman, beliau bawa aku bertemu David Teoh. Dalam diskusi kami, David minta aku bawa produser jumpa dia. Kalau produser setuju pada syaratnya, David akan bantu. Depan David juga aku call produser. Appointment set untuk meeting di kantor Metrowealth pagi besok.
Pagi besok produser datang dengan bisnis partner dia. Kami berempat mulai berdiskusi untuk selamatkan Jibam. David Teoh setuju membiayai 100% biaya pembuatan film itu dengan syarat:
- Ubah direktur baru.
- Ubah aktor-aktor remaja ke yang ada commercial value.
- Dia akan monitor pembikinan film ini dari A sampai Z.
Aku renung produser dan bisnis partnernya dengan harapan mereka setuju. Tapi sebaliknya dua-dua pun aku tengok muka kelam aje ...! Kemudian produser bersuara. Katanya, dia dah keluarkan RM20 ribu untuk buat lagu tema.
David terkejut tepuk dahi. "Haiyaa .... sape suruh you buat theme song? Kita shot dulu baru buat theme song. "
Jawab produser, dia ikut kata direktur. Tapi kata David, buat theme song RM5 ribu sudah cukup. Produser terdiam. Mungkin terasa dia sudah tertipu. Aku ingatkan Tipah saja tertipu. Tapi produser yang begitu berhati-hati pun tertipu juga. Sedangkan duit script aku pun ada setengah lagi belum bayar. Usaha aku selama ini selaku executive producer pun hanya untuk advance untuk minyak mobil, bayar tol dan makan minum saja.
David hanya tunggu jawaban produser. Kalau setuju, besok juga akan diadakan konferensi pers dan terus pre-pro untuk menggerakkan film ini. Dan itulah kali terakhir aku jumpa produser. Sehingga sekarang semuanya diam! Duit skrip pun masih tertunggak lagi. Saudara AF pula setelah itu tak mau jawab call aku. Sehingga sekarang aku dan dia sudah tak bersua muka lagi. Tapi dekat bulan baik ni, aku minta jika dia terbaca catatan ini, aku maafkan dia dan aku juga pohon ampun dan maaf jika aku bersalah. Jangan putuskan siratul-rahim persahabatan kita selama ini.
Sebenarnya konflik aku dengan sdra AF karena aku tidak setuju istri dia pegang karakter 'Miah'. Dalam film ini karakter 'Miah' adalah seorang gadis kampung yang baru lulus MCE dan masuk belajar di UPM. Kita sendiri bisa bayangkan bagaimana wajah, bentuk badan dan warna kulit karakter Miah itu. Sedangkan istri dia berwajah ala-Pan Asian, jangkung dan berkulit cerah.
Kedua, dia mau olah skrip itu dengan mewujudkan kembali karakter 'Suman' yang sudah mati melihat Jibam setiap kali dipukul dan didera oleh Tuk Ngah Sudin dan Usin Singai. Dan ketiga, mungkin dia dapat berita aku bawa produser jumpa David Teoh. Apapun tujuan aku ikhlas untuk jayakan Jibam. Lagipun aku sudah banyak menanggung malu. Dahlah mula-mula di Jakarta, lalu itu di Slim River pulak.
Tetapi yang paling mengejutkan aku saat keluar article dalam koran Berita Harian mengatakan 'Jibam' akan pindah lokasi dari Slim River ke Semenyih. Lantas aku call wartawan itu. Katanya dia tulis atas statement dari produser. Aku terus kelu, dah tak dapat nak cakap apa lagi. Secara tidak langsung aku dapat agak tugas aku selaku Executive Producer sudah 'dilepaskan'.
Pengorbanan dan usaha aku selama ini tidak dihargai. Sedangkan right 'Jibam' pada nama aku, aku sanggup pindahkan ke perusahaan. Aku lakukan ini atas desakan produser konon akan melicinkan proses film. Tetapi sebenarnya perasaan tamak sudah mulai berakar berdasarkan kertas-kerja asal yang aku sediakan banyak bisa dapat sponsor baik dari perusahaan swasta maupun badan pemerintah.
Berita terakhir yang aku dapat tahu, produser bayar ke penerbit novel sebanyak RM40ribu pembayaran copyright cerita itu untuk difilmkan.
Share on Facebook



































































Salam bro. Very sorry to hear that. Terutama sekali ketika bro sudah buat so many work for them tapi ini balasan yag di berikan. No wonder lah org zaman dulu2 cipta peribahasa "Habis Manis, Sepah Dibuang". Terlalu BIASA hal ini terjadi dalam masyarakat kita. Amat mendukacitakan.
Saya pernah baca Novel "Jibam" ini waktu kecil dulu-dulu. Malah kartunnya pun dikeluarkan dalam sebuah komik populer dulu. Saya AMAT suka ceritanya - sangat menyentuh perasaan. Karakter-karakter seperti Tuk Ngah Sudin, Usin Singai segar dalam ingatan saya meskipun jalan ceritanya mungkin byk yang saya dah lupa. Bagi saya itu novel yg klasik dan wajar dibaca oleh anak muda zaman sekarang.
Kapan saya dengar Jibam akan difilmkan dulu saya pun excited. Masa tu, kita belum brp kenal lagi (Thanks to MBB & FB, I semakin mengenali Bro Ruslie skrg). Apa yg menarik tentang kisah Jibam adalah ia berkisar pada kehidupan insan OKU. Bro pun tahu hal2 terkait dgn OKU amat DEKAT di hati saya.
Kapan saya baca artikel di atas saya merasa amat kecewa ... bukan saja pada produser, bahkan ke byk2 pihak2 yg lain termasuk FINAS dan SME ini. Saya tahu semua org mau kalau bisa semua film kalau bisa ada Juliana Evans atau Diana Daniel bergandengan dengan hero2 kacak dan muda. Sebabnya ia lebih komersial dan bisa buat duit.
Tapi untuk sekali, tak bisakah kita tolak tepi soal komersial dan ambil rugi utk ketengahkan film sebegini pula untuk memperbanyak khazanah film negara. Lagipun, tak semestinya RUGI! Apalagi kalau ada kerjasama dari Kem Pemb Masy dan dll untuk mempermosikan film ini.
Thanks sebab menjelaskan hak yg sebenarnya. Bro, jgn patah semangat. Saya pun dlm bisnis dulu, selalu kena "kencing" ini tetapi saya menyebutnya pengalaman berguna.
Regards,
Ismail N
Argh, perit pengalaman abang ni. Itulah asam garam industri film kita.
So film Jibam akan diterbitkan juga oleh produser ke? Tanpa menggunakan Metrowealth?
Sejak produser dah beli hak novel tu apakah skrip abang akan terus digunakan? Atau mereka akan suruh orang lain tulis skrip baru?
tak sangka, banyak benar 'cerita' di balik cerita Jibam ni. bila dah ikuti blog ni, barulah saya tau sedikit sebanyak kisah suka duka, pahit manis terkait industri film ni
Thanks bro Ismail. I like your comment. Base on my proposal, film itu bisa menjadi sebuah khazanah negara yang tak ternilai harganya. Di tambah pula jika ada keterlibatan dari beberapa badan pemerintah termasuk kementerian pariwisata, kementerian belia dan kementerian kesejahteraan masyarakat.
Harapan saya bukan titik blockbusters, tapi turut bertanding dlm festival film Asia dan juga Cannes Film Festival. Memangpun aslinya saya tak tumpukan pada nilai komersial, sebaliknya lebih ditekankan pada inti cerita. Gaya yang saya sarankan; 1. Suman (Eman Mana) 2. Tuk Ngah Sudin (Jalil Hamid) 3. Usop Kidung (Wan Hanafi Su) 4. Usin Singai (Nasir Bilal Khan) 5. Lebai Dollah (Abu Bakar Omar) dan 6. Mak Jibam (Khadtijah Tan).
Tapi sekarang nak buat macam mana lagi. Nasi dah jadi bubur. Kalau kita makan bubur tak akan kenyang dan bubur biasanya makanan orang sakit aje. Hehehe!
Salam Nor,
Terima kasih sudi singgah di blog saya. Memang perit pengalaman saya itu. Tambahkan perit dan agak kesal hubungan saya dgn Ahmad Fauzee putus.
Actually kini saya pun tak tahu apa statusnya. Dengar kata produser dah migrate ke Australia. Tapi my lawyer is still pursue the case for my script.
Memang amat sayang film ini tergantung tak bertali!
Terima kasih bro Zaki. Itu sebab karena Jibam saya dah 2 tahun lebih tak balik ke Jakarta. Memang saya malu besar dgn orang Terengganu. Tapi seandainya Jibam jadi shot di Jakarta dulu, memang nama Terengganu naik di mata dunia perfilman lokal dan internasional.
Kata orang Jakarta, "Nok wat guane doh dok jadi".
salam en rosli, saya bersimpati dengan apa yg trjadi.
Saya bangga dengan usaha, semangat dan kejujuran encik dalam mengangkat karya Jibam yg saya kira begitu bagus.
saya selalu membayangkan film jibam ini seperti cerita orang tua dikaki gunung di zmn saya kecik2 dulu.
kalu tak silap karakter anjang aki diperankan oleh tamam idris.
Rekomendasi aktor seperti yg bapak nyatakan amat saya setuju. pelakon2 itu semuanya hebat n real. Tambah lagi kalau abu bakar omar.
Membayangkan suasana desa yang nyaman, udara yg dingin, hutan diselimuti kabut pagi ..
rumah pondok atap rumbia dibangun dilereng bukit.
seperti daerah rumah org asli.
Waalaikumusalam Chah,
Terima kasih singgah di blog saya. Tantangan dan dugaan terlalu hebat dlm usaha saya memartabatkan film Jibam itu. Namun saya akur pada ketentuan Illahi. Tapi seandainya film itu menjadi kenyataan ia menjadi kebanggaan semua pihak.
Salam sejahtera Sdr Ruslie,
Terkedu Umi. All that hard work you did came to nothing. Umi bisa bayangkan rasa segan dan malu alah saudara pada orang orang yang telah membantu saudara dikedua2 tempat tersebut.
This freaking producer sounds so retard, bodoh sombong kata orang tua2.Berlagak bagus dan totally not fit to call himself a producer. More like a venture capitalist dengan no capital.How can you start a business without money. Thats totally and utter nonsense.Nak buat direct selling pun kena keluar modal .. nak bikin film? He himself has to have his own credentials checked first before you entrust your script to him. He must have at least some fund to kick off. Saya tidak think any bank di dunia would release fund berdasarkan nothing.That is business.No one is doing business for love.
Seluruh problem in this scenario started with the producer not having the money to kick off the project.Simple as that. Next time my friend make sure the producer is a REAL producer and not a dream merchant.
You are sincere and can really deliver. Hope you will find the right team in future, not some wannabe noobs dan glam seeker.
Take care my friend.
salam ..
cerita Jibam membawa pengajaran dn mjauhkan sifat2 xbaik tp dlm proses nak buat film plak leh ada 'sekumit hitam di hati mereka'.
Terima kasih Fairuz, semuanya bersumber drp perasaan tamak haloba.
Thanks for your comment Umi.
Itulah banyak sangat yang nak jadi produser film. Like this case, she was a talent scout agency cum sebagai production manager. In fact I respected her for the spirit to change her life. But the only problem, dia banyak sangat dengar cakap dan nasihat kawan2 yang tidak terkait dan terlalu terpengaruh sangat pada cakap direktur. Maka itu sebab lokasi bisa jadi pindah randah dan akibatnya film gagal diterbitkan.
alamak kesiannya .. bersimpati la uncle dengan kejadian macam ini ...
Uncle dah sering alami trajedi macam ni ... sehingga memberikan ide untuk uncle tulis e-book.
salam tuan rumah ...
bro rase, bro pernah bace buku nie ... mmg sedih sangat bile bacenye ....
erm alahai huhuhu
slim river tue kampung ayah teman .. teman pulak dok behrang je .. xde la jauh beno dengan slim river tue ...
p/s- besa la tue dunia ...
teman pun baru stop kerja kerna perkara2 lebih kurang cam nie jugak .. penganggur la teman ... hope masih ada income sebagai freelance
Waalaikumusalam Bro Framestone. Terima kasih sudi singgah ke mari. Citer Jibam mmg hebat. Kalau Mat Salih nengok bisa nangis.
Saya tiap hari Sabtu dan Minggu ada kat Slim Village karena dusun teman kat Rasau. Boring kat KL pergi menebas kat dusun ... badan pun sehat.
Salam bro,
Saya teruja bila mendengar Jibam akan difilmkan karena saya tumbuh bersama Ujang, Aku Budak minang, ACA dan juga Jibam. jadi bila tuan ingin mem'filemkan'kan cerita ini saya secara diam mendukung. Tapi bila membaca tulisan tuan saya sgt bersimpati dengan apa yang terjadi.
Itulah kan yang dikatakan dunia dan dlm pengajian sufi bila manusia sudah mulai tidak mengenali diri (lupa ada kekuatan lain yg berkuasa pada yg lain) akan jadi begitulah huru-haranya.
tapi tuan teruskan perjuangan jgn patah semangat karena lambat laun jika niat tuan benar ALLAH pasti akan membantu.
salam, encik ruslie.
tahniah atas usaha yang tak pernah putus asa. adat dunia mmg begitu ... bila nmpk ada kepentingan mula la msg2 berebut2 nk masuk lubang utk penuhkan kocek sndiri & tonjolkan diri. sanggup ketepikan org lain yg dh berpenat lelah. tapi takpe, Allah tahu. klu letih encik ruslie tu tak dihargai di dunia, di akhirat mungkin ada ganjarannya. tergantung pada niat kita, insya-Allah ... saya penah bekerja di perusahaan penerbitan yang menerbitkan jibam, tetapi kini tidak lagi. Jadi tau jugalah sedikit banyak hal2 awal proses penerbitan & hak cipta karya ni. ingatkan semuanya berjalan lancar, tak sangka panas terik yang menyengat dari pagi, rupanya dihapus oleh hujan petang.
doa saya semoga encik ruslie cekal dan tabah utk menghadapi dugaan dunia ni. wlupun trpaksa berhadapan dengan kerenah org kampung yang menuntut pembayaran hasil dari usaha mereka dan cemoohan orang, apakan daya ... kita manusia biasa. hanya mampu merancang seadanya. Allah jua yang menentukan. walau apa pn hidup harus diteruskan.
Waalaikumusalam sdra Waizuri. Terima kasih atas kunjungan ke mari. Jibam seorang kanak2 yang lurus bendul. Maka anggota produksi juga seharusnya jujur dalam menerbitkan film itu. Tetapi saat dihasut setan dengan perasaan tamak dan loba ...., Allah lebih mengetahui dari segala-galanya.
Waalaikumusalam Abg Bro. Dalam menerbitkan sebuah film terkait kanak2 cacat mental, kita tidak seharusnya 'terencat akal' sebelum syuting dimulai. Saya akan teruskan perjuangan hingga berhasil, insya-Allah.
Salam,. Tragis juga yerk episode nak bikin film jibam ni., ..
masa memula launch tu .. rasa teruja yelah sbb dah lama impikan masterpiece abg ujang ni dikembangka ke layar perak .. jd film ...
sy sgt2 la berharap perjuangan uncle utk bikin film ini terus subur .. jgn patah semangat ....
apakata pula en.ujang tentang hal ni?
Salam ...
Daftar aktor memang mantap .. orang hebat dgn lakonan efisien ... saya suka sangat ... start beli baca jibam masa belajar dulu ... mmg best! Terus beli novel buat koleksi ... Kalau ada DVD pun saya akan beli
amat berharap film Jibam akan berhasil dan mendapatkan penggarapan sempurna.
Cerita yang unik, menampilkan nilai2 kehidupan.Dah bosan dgn kisah cinta, seram karut ..
Nak tanya sikit, nape tak minta KRU terbitkan film ni?
Salam, Saudara, usahkan saudara keliru, saya pun juga keliru.
Saudara menulis: "Sedangkan right 'Jibam' pada nama aku, aku sanggup pindahkan ke perusahaan. Aku lakukan ini atas desakan produser konon akan melicinkan proses film. Tetapi sebenarnya perasaan tamak sudah mulai berakar berdasarkan kertas-kerja asal yang aku sediakan banyak bisa dapat sponsor baik dari perusahaan swasta maupun badan pemerintah "
Rights Jibam ni sapa yang punya? Apa "hak" yang Anda maksudkan? Minta rute penjelasan.
Terima kasih ibnukaduk sudi singgah di blog saya. Publisher novel Jibam yang pegang hak cipta memberi right (kebenaran) menerbitkan film Jibam pada nama saya. Tapi produser film menginginkan right (kebenaran cipta mempublikasikan film) dipindahkan ke perusahaan mereka.