Rentetan entry blog maizura Mohd Ederis bertajuk 'Nasib Penulis Skrip' sehingga menjangkau ke part 5, maka aku pun benar-benar terpanggil untuk turut sama meluahkannya. Meskipun sudah 24 jam aku masih belum tidur lagi karena harus menyiapkan satu proposal untuk produser yang hendak dikirim ke sebuah stasiun TV swasta, aku gagahi juga diri aku ini untuk mencatat pengalaman demi renungan semua penulis skrip khususnya dan seluruh pembaca blog umum.
Aku setuju dengan apa kata saudara Mazelan Manan dalam blognya. Seorang penulis skrip tidak berupaya untuk menempatkan harga dalam menyiapkan sebuah proposal. Ini karena produser bisa cari penulis skrip lain untuk melakukannya. Maka karena itu sebagian dari penulis skrip yang kerap menjadi korban dan diperkotak-katik oleh produser.
Aku kagum pada kegigihan saudara Eizlan Yusof berusaha membela nasib penulis skrip dalam mengatur pertemuaan antara penulis-penulis skrip dan presiden Swam (Screen Writers Association of Malaysia), Bapak Ismail Ahmad. Maka pada 21hb Februari 2010 (Minggu), jam 3.00 sore bertempat di FINAS, Hulu Klang, Kuala Lumpur, pertemuan tersebut akan diadakan.
Semua penulis skrip yang pernah menghasilkan karya di kaca TV, setidaknya sebuah karya, tidak kira apakah skrip drama TV, dokumenter, majalah, obrolan-bicara, program realitas atau gameshow diundang hadir.
Tapi yang tak syoknya, pertemuan itu bersyarat. Penulis naskah yang masih belum menjadi anggota Swam diinginkan jadi anggota dulu baru bisa bergabung pertemuan itu. Kalau tak jadi anggota, presiden Swam tak mau jumpa penulis skrip. Kalau bak kata omputeh .... nie dah tahap 'blackmail'.
Swam memang mau semua penulis skrip bergabung di bawah payungnya. Ini karena masih banyak lagi penulis skrip yang tidak menjadi anggota Swam. Termasuk aku sendiri.
Jangan tanya apa yang negara bisa buat untuk kamu, tapi tanya apa yang kamu bisa buat untuk negara! Itulah biasanya. Tetapi dalam soal ini, apa Swam bisa buat untuk penulis skrip? Sehingga kini Swam sudah beberapa kali berganti pemimpin, tetapi masih di tampuk lama ini. Swam masih gagal mendapat pengakuan dari stasiun TV, waima dengan RTM.
Tetapi apapun aku setuju pada saran saudara Mazelan Manan agar kita bertindak secara profesional dengan mengumpulkan segala persoalan, jadikan draft, kirim pada Swam dan minta satu tanggal untuk Swam menjawab segala persoalan. Dalam pada itu, beliau sarankan agar melantikkan beberapa anggota Swam untuk pertanyaan-pertanyaan timbul di hari pertemuan itu.
Aku memang sudah lama menunggu saat-saat seperti ini. Insya-Allah ... diizinkan Allah aku akan bersama semua penulis skrip tanah air bergabung energi.
Share on Facebook






























































